Tuesday, June 14, 2011

Selera Makan Anak Dipengaruhi Ayah Bukan Ibu

Bila anak mengalami kesulitan atau memiliki nafsu makan yang besar biasanya yang paling sering disalahkan adalah ibunya. Padahal berdasarkan studi baru, selera atau pola makan anak lebih banyak dipengaruhi oleh ayah, bukan ibu.

"Pria yang suka makan makanan junk food akan lebih cenderung memiliki anak-anak yang juga memiliki kebiasaan serupa," jelas Alex McIntosh, sosiolog Texas AgriLife Research yang memimpin penelitian, seperti dilansir Indiavision, Senin (13/6/2011).

Menurut laporan Journal of Nutrition Education and Behaviour, pilihan makanan seorang pria akan berpengaruh kelak pada pilihan makanan anak-anaknya. Faktor ayah bahkan lebih kuat mempengaruhi anak ketimbang faktor dari ibu.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ayah lebih cenderung berpengaruh terhadap kegemukan pada anak ketimbang ibu. Studi ini menunjukkan bahwa ayah lebih toleran atau permisif membiarkan anak-anaknya pergi ke restoran cepat saji yang akhirnya membuat anak mengalami obesitas atau kegemukan.

Penelitian ini dilakukan selama 15 bulan dan mempelajari bagaimana pilihan makanan orangtua terhadap anaknya.

"Yang menarik khususnya adalah pilihan restoran orangtua berpengaruh pada tingkat obesitas anak," jelas McIntosh.

McIntosh mengatakan hasil penelitian ini akan memberi pesan untuk ayah bahwa mereka memiliki tanggung jawab seperti ibu untuk membesarkan anak-anak yang sehat. Selain itu, ayah perlu tahu lebih banyak tentang kandungan gizi dari makanan cepat saji.

Berbeda dengan ibu yang lebih memperhatikan kandungan gizi dari makanan yang akan diberikan pada anak-anaknya, seorang ayah cenderung lebih membiarkan anaknya memilih makanan apa saja yang ia suka, terlebih bila makanan tersebut juga merupakan kesukaan ayahnya, termasuk makanan cepat saji atau junk food.

"Tapi saya rasa itu cukup jelas bahwa ayah memiliki pengaruh yang besar atas apa yang anak-anaknya makan," tutup McIntosh.

Sumber : http://health.detik.com/read/2011/06/13/155516/1659209/764/selera-makan-anak-dipengaruhi-ayah-bukan-ibu?l991101755

Monday, June 13, 2011

Kondisi Anemia yang Sebabkan Kematian Pada Ibu Hamil

Jakarta, Secara fisiologis ibu hamil memang lebih rentan mengalami anemia atau kurang darah. Tapi sebaiknya hal ini tidak dianggap sepele, karena anemia bisa menyebabkan kematian pada ibu hamil saat melahirkan.

"Menurut WHO seseorang dikatakan anemia jika nilai hemoglobinnya (Hb) kurang dari 11 mg/dl darah," ujar dr Inge Permadhi MS, SpGK dalam acara Nutritalk: Inspirasi Sehat Wanita Indonesia di Hongkong Cafe, Jakarta, Selasa (7/6/2011).

dr Inge menuturkan ibu melahirkan akan disuntikkan sesuatu ke dalam tubuhnya untuk membantu menghentikan perdarahan usai melahirkan. Tapi jika ibu mengalami anemia, suntikan itu tidak bereaksi sehingga pembuluh darahnya tidak menyempit yang membuat perdarahan terus terjadi.

Jika perdarahan tidak dapat diatasi maka bisa menyebabkan terjadinya kematian pada ibu. Kalaupun ia bisa bertahan hidup setelah mengalami perdarahan pasca melahirkan, ia akan menderita kekurangan darah berat dan masalah kesehatan yang berkepanjangan.

Berdasarkan data dari Riskesdas 2010 diketahui bahwa perdarahan menempati urutan tertinggi penyebab kematian ibu yaitu sebesar 28 persen. Dan penyebab utama dari perdarahan ini adalah anemia serta kekurangan energi kronis pada ibu hamil.

"Penyebab anemia bermacam-macam, secara fisiologis saat hamil jumlah cairan di dalam tubuh akan lebih banyak sedangkan sel darah merahnya tetap sehingga memicu terjadinya anemia," ujar dokter dari Departemen Ilmu Gizi FKUI.

dr Inge menuturkan ada penyebab lain anemia seperti:


Asupan makanan yang kurang baik misalnya karena sering mual dan muntah

  1. Mengalami kehamilan kembar
  2. Jangka waktunya dekat dengan kehamilan sebelumnya
  3. Cadangan zat besi yang terkandung di dalam tubuh ibu sebelum hamil sedikit
  4. Adanya penyakit seperti infeksi cacingan

Selain menyebabkan perdarahan, anemia yang terjadi pada ibu hamil bisa berakibat pada ibu itu sendiri dan juga janin yang dikandungnya. Pada ibu bisa menyebabkan berat badan susah naik, abortus (keguguran), penyulit kehamilan, persalinan, nifas dan pasca melahirkan.

Sedangkan pada janin yang dikandung bisa menyebabkan bayi berat badan lahir rendah (BBLR), bayi prematur, bayi lahir dengan anemia dan penyulit setelah lahir seperti gagal tumbuh dan kecerdasan rendah.

"Semua zat gizi pada ibu hamil itu penting, tapi ada beberapa nutrisi yang butuh perhatian lebih yaitu zat besi, kalsium, asam folat, B12 dan juga protein," ungkapnya.

Semua nutrisi tersebut bisa didapatkan dari makanan seperti hati ayam, kerang, daging merah, ikan tuna, kedelai, bayam, brokoli, kacang merah, asparagus, jeruk, kacang-kacangan, susu rendah lemak, keju.

"Jadi anggapan kalau hamil harus makan 2 piring itu tidak benar, karena yang penting adalah zat gizinya. Kalau mau nambah lebih baik perbanyak protein yang bisa membantu pertumbuhan anak di dalam rahim dan perhatikan penambahan berat badannya," ujar dr Inge.

dr Inge menuturkan untuk ibu hamil yang sebelumnya sudah memiliki indeks massa tubuh (IMT) normal maka kenaikan berat badan totalnya sebesar 11,5-16,5 kg, untuk ibu yang underweight (berat badan kurang) kenaikannya sebesar 12,5-18 kg, untuk ibu yang kelebihan berat badan (overweight) kenaikannya sebesar 7-11,5 kg dan untuk ibu yang obesitas kenaikannya sebesar 6,8 kg.



Sumber : Sumber : http://health.detik.com/read/2011/06/07/144351/1654912/764/kondisi-anemia-yang-sebabkan-kematian-pada-ibu-hamil

BEGITU SULITKAH MENJADI TERKENAL DI INDONESIA ?

Dalam satu minggu ini, saya melihat beberapa kejadian yang cukup menggelisahkan saya...

Di sebuah acara talk show, seorang pakar finansial yang terkenal mendadak( dua hari sebelum acara ) membatalkan diri hadir di acara talkshow yang sudah jauh hari dipersiapkan, dan dengan santainya, dia bilang dengan muka tanpa rasa bersalah, kalau dia akan mengirimkan penggantinya, yang menurut dia, kualitasnya sama dengan dia..

Melihat ulahnya, saya jadi berpikir, akan jadi seperti apa? Jika Miss Jinjing melanggar kesepakatan, tidak hadir di acara yang mengundang Miss Jinjing dan pastinya sudah membayar mahal fee Miss Jinjing , dan dengan entengnya saya bilang, nanti saya kirim Miss Jinjing yang lain yang kualitasnya hampir sama !!! dijamin , besok pasti saya langsung di " sue" , dituntut kepengadilan, dihujat dan dikata-katain di internet.

Beberapa hari setelah acara talk show ini, saya menghadiri talk show yang lain, yang mengundang seorang selebritas cantik dan anggota legislatif... dan mengundang seorang fotografer terkenal...

Si cantik datang seadanya dengan jeans dan t-shirt dan jaket jeans yang menurut saya sangat terlalu biasa untuk merepresentasikan materi talkshow, tentang seorang maestro batik nasional dan jelas diundangan ada dress code tertentu yang sangat formal.Kasihan sekali si cantik, penampilannya sangat kebanting dengan para undangan yang hadir, yang kebanyakan "madam-madam yang tajir melintir keplintir yang mengenakan karya maestro tersebut ". Dan jelas Si Cantik sangat tidak menguasai materi talk show dan hanya senyam senyum sambil duduk cantik, sementara moderatornya adalah kurator batik kelas wahid yang pernah ada di Indonesia. Jelas kebanting sekali penampilan Si Cantik dengan sang Moderator... Pemandangan yang sangat tidak mengenakkan kan...

Si photographer datang terlambat 40 menit setelah talk show dimulai, dan talk show itu sendiri, dimulai terlambat 1 jam ( hal yang sangat biasa terjadi di Indonesia ).Dan saat beliau datang, beliau langsung grusak grusuk depan panggung memasang kabel dan lain - lain , dan sangat terasa mengganggu jalannya acara....

Tiga kejadian ini menimbulkan pertanyaan besar bagi saya...

Begitu sulitkkah ??? menjadi selebritas atau pakar di negeri ini ?

Sulitkah menghargai pengundang ? meskipun mereka telah membayar mahal fee dan mengeluarkan dana yang cukup besar untuk membuat sebuah acara yang bermutu ?

Saya sangat percaya, menjadi terkenal di publik,being expert, being wellknown or being famous, pasti ada harga yang harus dibayar... dan pastinya tidak murah... Akan dituntut untuk " all out " menjaga kualitas keahlian kita... dituntut untuk mengupgrade pengetahuan dan keahlian supaya tidak jadi " tong kosong yang nyaring bunyinya ", menjaga penampilan dan total look, karena dibayar tidak murah dan harus sepadan dengan bayarannya dong... Jangan sampai terjadi, dibayar kelas bintang lima, penampilan yang diberikan , penampilan kelas melati... kasihan yang sudah mengundang kan ???

Saya selalu salut dengan Krisdayanti, yang selalu memberikan penampilan " all out " setiap kali naik ke atas panggung... Dia selalu sangat menghargai pengundang yang sudah membayar mahal penampilannya... walaupun harga yang harus dibayar untuk penampilannya tidak lah murah , bahkan terasa sangat tidak masuk akal jika didengar publik. Tapi ini yang namanya profesionalisme. Memberikan yang terbaik sebagai bukti memiliki kualitas terbaik...

Tulisan ini hanya renungan, bukan untuk mendeskriditkan seseorang....

love

Miss Jinjing

Saturday, June 11, 2011

KETIKA HARUS MENINGGALKAN SI KECIL DI RUMAH





Sumber : http://www.bkkbn.go.id/Webs/index.php/rubrik/detail/607


Memiliki batita tidak membuat Anda serta merta dapat menghindar dari dinas luar kota dalam waktu lama yang sudah menjadi tuntutan kesibukan Anda.
Tak ada perbedaan signifikan mengenai apakah ibu atau ayah yang akan pergi. Yang menjadi poin penting adalah dengan siapa anak lebih dekat selama ini. Jika sosok yang pergi adalah sang pengasuh utamanya, maka proses adaptasi anak tentu akan lebih sulit sehingga dibutuhkan persiapan yang lebih intensif.
Esther Lianawati, Psi, menjelaskan bahwa tanpa persiapan, anak dapat mengalami rasa kehilangan yang teramat sangat sehingga membuatnya  jadi berperilaku negatif, seperti rewel, sulit makan, mudah marah, murung, dan lainnya. Si kecil pun dapat saja merasa disakiti oleh ulah orangtuanya dan menganggap orangtuanya tidak menyayanginya lagi.
Dampak yang kemungkinan terjadi dalam jangka panjang adalah anak bisa-bisa hanya mengembangkan kedekatan dengan orangtua yang mengasuhnya di rumah dan melupakan orangtua yang pergi. “JIka tidak ada kesepakatan sebelumnya, penerapan pola asuh kemungkinan juga bisa berubah. Soal disiplin, misalnya, bisa menjadi lebih longgar,” kata Esther. 
Beberapa kiat yang diberikan Esther ini semoga dapat meminimalkan dampak kepergian orangtua pada si batita: 
* Beri tahu si kecil akan rencana kepergian Anda
Idealnya sejak 2-3 bulan sebelumnya. Sampaikan bahwa kepergian Anda kali ini memang cukup lama, namun tekankan bahwa pasangan Anda akan tetap ada untuk  mendampingi si kecil di rumah. Sebutkan lama dan tujuan kepergian, serta tegaskan bahwa kepergian itu akan bermanfaat bagi kehidupan keluarga kelak. Ini bukanlah masalah apakah si batita akan mampu menyerap penjelasan Anda dengan baik atau tidak, tetapi lebih pada masalah menghargai si kecil.
* Berikan rasa aman
Jelaskan bahwa Anda akan kembali berkumpul bersamanya. Jika selama ini Anda konsisten dengan apa yang Anda ucapkan, maka akan lebih mudah memberikan pengertian kepada si kecil karena ia telah belajar bahwa ayah/ibunya memang selalu menepati janji dengan pulang tepat waktu. 
* Sepakat pola asuh
Buatlah kesepakatan bersama dengan pasangan mengenai pola pengasuhan yang akan diterapkan. Dengan adanya komitmen untuk melakukan suatu pola asuh (yang dianggap terbaik bagi anak), diharapkan pendidikan anak tetap berjalan baik meskipun Anda tidak di rumah.  
* Sosok pengganti
Sosok pengganti sementara bisa saja dihadirkan. Jika yang pergi ibu bisa menghadirkan nenek atau tante. Sedangkan sosok ayah bisa digantikan sementara oleh kakek atau om. Tetapi kehadiran sosok pengganti jangan sampai mengganggu kelekatan anak dengan Anda saat Anda kembali kelak.
* Libatkan dalam persiapan
Misal, dengan mengajak anak membeli pakaian hangat. Jelaskan bahwa perlengkapan itu akan Anda gunakan saat pergi nanti. Keterlibatan anak dan keterbukaan Anda, akan membangun kepercayaan pada diri si kecil bahwa ibu/ayahnya pasti akan kembali pada saatnya nanti.
* Perhatikan hal-hal khusus
Umpama, bagi ibu yang masih menyusui, pertimbangkan untuk melakukan penyapihan lebih dini. Contoh lain, jika ada kesepakatan si kecil akan pindah rumah (misalnya ke rumah kakek-nenek) selama  Anda pergi, lakukan kepindahan beberapa waktu sebelum keberangkatan Anda. Jangan sampai anak mengalami lebih dari satu proses adaptasi. 
* Tetap menjalin kontak 
Saat di negeri seberang, jaga dan jalinlah kontak dengan keluarga, terutama si kecil. Manfaatkan teknologi seperti e-mail, chatting dengan webcam, atau teknologi konvensional seperti telepon untuk menjaga kedekatan dengan anak.  
Bagi pasangan yang ditinggal: 
* Kirimkanlah berbagai informasi mengenai perkembangan si kecil dalam bentuk foto atau pun hasil kreasi anak berupa gambar, prakarya sederhana, dan lainnya. 
* Dalam aktivitas keseharian, selipkan selalu cerita mengenai istri/suami yang tengah pergi. Misal, “Mama masak sup kacang merah kesukaan Papa lho. Papa sedang makan apa ya di Jepang?” Atau saat si kecil menginginkan suatu mainan, katakan agar ia menanyakan terlebih dulu kepada ayah/ibu saat menelepon/chatting nanti. 
* Hindari mengeluh di depan anak, ”Duh… coba Mama/Papa ada di sini, pasti tidak akan repot seperti ini.”
Jika kontak terjaga, otomatis anak akan selalu merasakan kehadiran ayah/ibunya meski tidak secara fisik. Ketika nanti kembali, anak tidak akan merasa asing lagi

Friday, June 10, 2011

Pola Makan Ibu Pengaruhi Kesehatan Bayi

Kompas.com - Untuk memiliki anak yang sehat, faktor genetik saja tidak cukup tanpa diimbangi dengan pola hidup yang sehat dari kedua orangtuanya. Seorang wanita yang menginginkan kehamilan harus mempersiapkan tubuhnya dengan baik agar proses kehamilan berjalan baik dan anak yang dilahirkan sehat.
Persiapan kondisi tubuh ini menurut dr.Inge Permadhi, Sp.GK, meliputi menjaga berat badan dalam kisaran normal, memastikan kebutuhan energi tercukupi, serta tidak kekurangan gizi atau pun anemia.
"Ibu yang kurang gizi sangat berdampak pada kualitas kesehatan janinnya. Misalnya saja jika ibu mengalami kekurangan zat besi bayinya beresiko lahir dengan berat badan rendah serta mengalami gagal tumbuh," katanya di acara Nutritalk yang digagas oleh Sari Husada di Jakarta (7/6).
Gizi yang baik juga akan mendukung proses pembuahan, kehamilan yang sehat, serta persalinan tanpa komplikasi. "Ibu yang anemia rahimnya akan kesulitan berkontraksi setelah persalinan sehingga terjadi perdarahan," papar staf pengajar dari Fakultas Ilmu Gizi FKUI ini.
Ia menambahkan, kesadarahan akan gaya hidup sehat ini seharusnya dimiliki seseorang seumur hidupnya, bukan hanya saat sedang menjalani program kehamilan.
"Tidak ada patokan berapa bulan sebelum kehamilan seorang wanita harus memiliki pola hidup sehat, idealnya seumur hidup, bahkan sejak masih anak-anak kita harus memiliki status gizi yang baik," katanya.
Ia memberi contoh kebiasaan merokok yang bisa merusak sel-sel tubuh. "Sel-sel yang buruk ini bisa saja diturunkan kepada anaknya, meski saat hamil si ibu sudah berhenti merokok," katanya.
Demikian juga kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi lemak atau makanan yang diawetkan. Paparan zat pengawet atau zat pewarna yang berbahaya bisa meregenerasi sel-sel tubuh.
"Sebelum kehamilan yang penting kondisi tubuh ibu sehat dan status gizinya baik sehingga ibu memiliki cadangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan janin," katanya.

TUNDA KEHAMILAN DENGAN ALAT KONTRASEPSI YANG TEPAT


Jakarta—bkkbn online: Ada beragam alasan mengapa seorang ibu menunda kehamilan berikutnya setelah anak pertama lahir. Namun, apa pun alasannya, hal yang perlu dipertimbangkan agar penundaan ini berjalan  lancar adalah mengatur jarak kehamilan. Idealnya, jarak waktu antarkehamilan adalah 2 tahunan. Pertimbangannya, masa tersebut cukup panjang (tapi juga tidak terlalu lama) untuk membangun kesiapan, baik fisik, psikis, maupun finansial.
Pada ibu yang persalinan sebelumnya dilakukan secara sesar, malah dianjurkan untuk tidak kembali hamil di bawah satu tahun, mengingat umumnya persalinan berikut juga berisiko disesar. Karena sesar adalah tindakan operasi, sangat diperlukan istirahat fisik yang lebih panjang dibanding persalinan normal.
Mengenai jarak antarkehamilan ini, sebuah penelitian yang dilakukan Center for Disease Control and Prevention menyebutkan, sebenarnya jarak antarkehamilan yang ideal adalah 18-23 bulan karena tubuh ibu sudah kembali dalam kondisi yang baik. Riset tersebut juga menyebutkan, jarak kehamilan yang terlalu dekat berisiko bagi kesehatan janin. Begitu juga jika jarak antarkehamilan terlalu jauh. Risiko keduanya, antara lain mengakibatkan bayi lahir prematur dan berat badan rendah.
Pentingnya memerhatikan jarak ideal tak hanya berlaku untuk kehamilan kedua, tapi juga kehamilan ketiga, dan seterusnya. Perlu juga dipertimbangkan faktor usia Anda. Hamil di usia 35 tahun atau lebih semakin meningkatkan risikonya. Lantaran itu, hitung-hitungan jarak kehamilan ini juga harus melibatkan usia Anda sambil mempertimbangkan jumlah anak yang memang direncanakan.

Gunakan kontrasepsi
Upaya mengatur jarak kehamilan dapat dilakukan dengan menggunakan kontrasepsi atau alat kontra konsepsi yang mencegah proses konsepsi alias pertemuan antara sel telur dan sperma. Ada beragam alat kontrasepsi yang dapat digunakan. Efektivitas dan kecocokan dari penggunaan masing-masing alat kontrasepsi tentu saja bergantung pada kondisi fisik, pola hidup, kebiasaan, juga kedisiplinan pemakainya. Ada yang cocok memakai pil KB, ada juga yang lebih cocok dengan suntik atau lainnya. Untuk mengetahui cocok-tidaknya, mau tak mau Anda perlu memilih dan mencoba dulu, baru kemudian dapat diketahui apakah cocok atau tidak berdasarkan perkembangan selanjutnya.
Semua alat kontrasepsi dapat mencapai efektivitasnya hingga 90-99%, tentunya bila digunakan dengan prosedur yang benar. Pil KB wajib diminum tiap hari. Kondom harus digunakan setiap kali berhubungan intim. KB suntik diberikan setiap bulan atau per tiga bulan. Sekali terlupa atau diabaikan, boleh jadi efektivitasnya berkurang atau bahkan gagal menghindari pembuahan.
Nah, berikut ini sejumlah alat kontrasepsi (alkon) yang dapat dijadikan pilihan.

Pil KB
Untuk ibu yang masih menyusui, gunakan pil progesteron karena tidak menekan prolaktin sehingga produksi ASI tetap bisa melimpah.
Wajib diminum setiap hari.
Efek samping: mual, muntah, pusing, bercak di wajah.

Suntikan
Proses penyuntikan dapat dilakukan tiga bulan sekali oleh dokter atau bidan.
Kalangan awam menyebutnya dengan KB depo provera.
Efek samping: menambah berat badan.

IUD (Intra Uterine Device)
Tidak mengganggu produksi ASI.
Penggunaannya bisa mencapai 4-5 tahunan.
Efek samping: keputihan, siklus haid terganggu, atau munculnya perdarahan sedikit yang kadang disertai mulas.

Kondom
Berfungsi menghalangi pertemuan sperma dan sel telur.
Efek samping: ada yang mengalami alergi kondom lateks, misalnya dalam bentuk gangguan iritasi pada dinding vagina.

Implan/susuk
Disusupkan di bawah kulit lengan atas sebelah dalam.
Efek samping: perdarahan yang tak lama, rambut rontok, atau tidak haid.

Kontrasepsi alami
Memberikan ASI secara eksklusif tanpa cairan/makanan apa pun kepada bayi, terutama pada 6 bulan pertama, dapat mencegah terjadinya kehamilan. Namun, efektivitasnya kurang terjamin.

3 Kalimat Terlarang Saat Makan Bersama Anak

KOMPAS.com - Setiap hari Anda makan malam bersama anak-anak di rumah? Bagus! Selama makan, pasti Anda sekeluarga akan berbagi begitu banyak cerita. Tak hanya itu, Anda juga mungkin sering melontarkan beberapa komentar sehubungan dengan aktivitas makan yang sedang dilakukan anak maupun Anda sendiri.
Ternyata, menurut pakar Michelle May, MD, seorang penulis sekaligus dokter keluarga, percakapan di meja makan ini sangat berpengaruh pada masa depan anak-anak, terutama yang berkaitan dengan kesehatan dan pola makan. Dari acara rutin ini, mereka akan belajar cara pandang terhadap makanan dan juga bagaimana memperlakukannya. Namun, ada beberapa hal yang kerap orangtua ucapkan yang ternyata bisa membentuk pandangan yang keliru pada anak. Inilah beberapa di antaranya:

1. Melabeli anak
Anak-anak selalu ingin menyenangkan hati orangtuanya. Ketika mereka makan banyak, Anda memujinya "Wah, pintar ya makannya". Sementara jika mereka tidak suka makanan yang dihidangkan, Anda berkata, "Kamu suka pilih-pilih makan, ya?"
Menurut May, orangtua sebaiknya mengajarkan bahwa tujuan dari makan adalah untuk memenuhi kebutuhan energi anak, bukannya menyenangkan hati orangtua.  Dengan begitu, mereka akan paham sejak awal bahwa porsi makanan yang cukup dan variasi menu yang baik akan membuat mereka sehat. Bila tujuan ini tercapai, dengan sendirinya mereka akan bersedia mencicipi berbagai jenis makanan dan menyantap makanan yang Anda anggap penting bagi kesehatannya.

2. Mengancam dan menyogok
Anak-anak sangat cerdas. Ketika Anda mencoba menyogoknya untuk menyantap makanan tertentu, mereka langsung tahu kalau hidangan itu tidak enak rasanya, dan apa yang Anda jadikan sogokan adalah hadiahnya. Nantinya, mereka terbiasa untuk tidak mau memakan hidangan itu sebelum diberikan hadiahnya. Kemungkinan lain, Anda mengancam mereka dengan berkata: "Habiskan semua yang di piring atau kamu tidak boleh makan es krim".
Menurut May, orangtua harus terlebih dulu melihat apakah porsi makan anak sudah cukup atau belum. Berikan mereka makanan sesuai porsi yang sanggup dimakan dan hindari mendorong mereka makan lebih banyak dari kemampuan. "Mendorong mereka makan berlebihan dan disertai dengan hadiah berupa makanan manis, dapat terus dibawa hingga mereka dewasa nanti," kata May memperingatkan.

3. Menghukum diri sendiri
Tidak hanya kalimat yang Anda lontarkan pada mereka. Apa yang Anda katakan tentang diri sendiri juga dapat mengubah pandangan mereka. Misalnya, dengan berkata bahwa Anda telah makan terlalu banyak hari itu, dan dengan demikian terpaksa harus berolahraga lebih banyak di gym. Sementara, pada dasarnya anak-anak memang hobi bergerak. Jika mereka mendengarnya, bisa jadi mereka menganggap olahraga dan aktivitas fisik sebagai salah satu bentuk hukuman.
Hindari juga menyatakan diri Anda gemuk dan buruk, karena pernyataan seperti ini akan membuat anak belajar menilai orang dari penampilan fisiknya.
"Lebih baik jika Anda berkata, bahwa hari ini telah makan lebih banyak daripada yang dibutuhkan, dan karenanya akan berjalan kaki sebentar supaya badan Anda menjadi lebih enak," anjur May.
Selain itu, sering-seringlah berkata pada anak bahwa Anda memang tidak memiliki badan yang sempurna, namun selalu berusaha supaya bisa hidup sehat. Mereka akan meniru cara pikir ini sampai besar nanti!


Sumber : Kompas.com