Seingat saya, rasanya sudah berpuluh puluh tahun tidak merayakan hari kartini, yang ada tinggal di ingatan saya adalah ketika saya SD merayakannya dengan memakai baju nasional dan didandanin habis habisan sama ibu saya, karena nampaknya ibu saya bersaing dengan teman temannya untuk urusan yang satu ini. Dan dulu saya sering sekali bermuka sebal jika didandanin, pakai make up, pakai kebaya. Tapi itu dulu.. kalau sekarang sih sudah bertransformasi jadi banci tampi of the year hehhhe....
Nah beberapa hari ini saya benar benar terhentak luar biasa. Beberapa undangan untuk sebagai pembicara di hari kartini di berbagai tempat di Indonesia sudah saya terima. Kaget sekali... enggak salah??? hari kartini???? dan saya sebagai key note speaker???? Saya lalu berpikir keras... apa sih yang sedang terjadi dalam diri saya, sedang terjadi terhadap yang ada di sekeliling saya??? Saya bertanya dalam diri saya, apa pantas saya jadi pembicara di depan sekian banyak orang di hari yang sangat dihormati para perempuan se indonesia? Apa pantas saya berbicara depan mereka? dan apa yang mau saya bicarakan ke mereka??? Apa bisa mereka mendapatkan sesuai dengan yang mereka harapkan??? mengingat mendatangkan saya dari Jambi kan juga tidak murah, heheheh... Bingung sungguh bingung.. gundah sungguh gundah.
Balik ke ibu kartini...
Rasanya semua yang ada dalam diri saya, jauh dari karakter ibu kartini, saya bukan perempuan yang halus budi bahasa, bukan perempuan yang nrimo, bukan perempuan yang patuh pada orang tua dan suami. Saya bukan lah teladan yang baik seperti ibu kartini. Tapi saya suka sekali dengan sikap pantang menyerah ditengah keterbatasan yang ada dalam ibu kartini. Saya juga bukan orang yang gampang menyerah... kalau saya punya mau, harus kesampaian, harus kejadian. Sudah banyak sekali yang bilang saya sangat keras kepala dan jiwa pemberontak dalam diri saya memang dari dulu sering tidak dapat diredam.
Saya sering tidak bisa terima, jika melihat perempuan Indonesia tidak diperlakukan dengan hormat, dijadikan koleksi istri istri orang kaya, terutama di sinetron Indonesia, yang justru penggemar terbanyaknya, perempuan Indonesia. Saya tidak bisa menerima segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga, baik yang bentuknya kekerasan fisik, kekerasan mental dan kekerasan kata-kata. Memang saya sadar, tidak semua perempuan Indonesia bisa dalam posisi mandiri, baik kemandirian secara finansial maupun kemandirian untuk hidup sendiri tanpa bergantung terhadap siapapun kecuali bergantung pada kemampuannya sendiri dan otaknya, untuk memperjuangkan haknya, melindungi harga dirinya.
Seperti yang saya pernah bilang, setelah saya dikenal publik, saya justru malah sering menjadi tempat curhat teman teman di dunia maya. Cerita mereka sering membuat saya menitikkan airmata, melihat perempuan Indonesia, yang mestinya bisa memaksimalkan potensi dirinya masing masing, terkukung dalam kehidupan yang membuatnya tidak hanya tidak bahagia, tetapi jadi lumpuh karena tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Saya ingin sekali membantu mereka, tapi tidak bisa berbuat apa apa kecuali menjadi inspirasi bagi mereka.
Balik ke hari Kartini...
Perayaan hari Kartini yang moderen sebaiknya bukan lagi menjadi pesta kostum, tapi sebaiknya menjadi hari dimana kita, perempuan Indonesia, saling mendukung, saling membantu sesama perempuan Indonesia dengan kemampuannya masing masing, agar perempuan Indonesia bisa merdeka, dalam arti bisa bahagia dengan apapun pilihan hidup mereka, bisa memaksimalkan semua potensi diri yang diberikan Tuhan kepada setiap perempuan Indonesia, menjadi pribadi yang mandiri, secara mental dan finansial.
PEREMPUAN INDONESIA, ADALAH PEREMPUAN YANG HEBAT, DAN SAYA BANGGA JADI PEREMPUAN INDONESIA.
Home » Posts filed under Indonesian Culture
Showing posts with label Indonesian Culture. Show all posts
Showing posts with label Indonesian Culture. Show all posts
Wednesday, April 15, 2009
Sunday, March 1, 2009
JADI CALEG
Akhir akhir ini banyak banget teman teman dan saudara aku yang berjuang agar terpilih ( atau untuk kedua atau kesekian kalinya) sebagai anggota DPR RI, DPRD I dan DPRD II. Dari yang serius berjuang sampai titik darah penghabisan, sampai yang cuma sekadar penggembira dengan modal dengkul. Tapi seperti apapun usaha mereka,salut saya untuk mereka( terlepas dari ada atau tidaknya niat baik mereka jika nanti terpilih ).
Saya jadi teringat kisah lima tahun yang lalu ketika saya jadi caleg DPR RI partai PIB ( partain indonesia baru ) untuk DAPIL SUMUT 1. Sebenarnya secara fisik,mental dan finansial waktu itu,saya belum siap, tapi karena di dorong oleh My Dad yang bersahabat erat dengan Alm.Sjahrir, akhirnya mau juga saya ikut berperan serta bantu bantu di partai itu. Kata My Dad, tidak akan ada ruginya belajar. Jika suatu saat mau diseriusin, kamu sudah tahu apa yang kamu mau perbuat dan bagaimana caranya. Akhirnya selama sekitar 6 bulan saya bolak balik setiap minggu ke Medan sama Nanda Hasibuan dan Opung Gustav Panjaitan.
Dapil 1 waktu itu meliputi pemkot Medan, kabupaten Deli Serdang dan kabupaten Serdang Bedagai. Dan benar kata My Dad...banyak yang saya pelajari dari sini. Saya sudah keliling ke semua kecamatan yang ada di sana, dan tidak ada satupun pengalaman buruk selama keliling dari satu kecamatan ke kecamatan lainnya. Penduduk disana sangat baik dan tulus jika kita datang dengan tangan terbuka. Saya paling sering dioleh olehin makanan dan kue kue khas daerah sana jika pulang. Saya paling senang kalau ke daerah pemukiman nelayan. Penduduknya biasanya sangat ramah dan sangat mudah untuk dikumpulkan. Beda dengan masyarakat yang sudah tinggal di perkotaan.Ngumpulin 50 orang saja kalau enggak diiming imingin uang kayaknya susah banget.
Bukan rahasia umum jika ingin nyaleg, harus siap dana yang tidak sedikit. Banyak banget pengeluaran yang bakal keluar, baik di rencanakan maupun tidak.Semuanya serba money oriented. Setiap turun ke lapangan, duit harus tebal. Bagi bagi kaos, sarung, obat, beras, sembako , cetak atribut, biaya kopi, rokok dan makanan dalam setiap rapat dan pertemuan dengan konstituen di daerah adalah suatu standard banget, tapi itupun bisa habis ratusan juta rupiah. Jadi bullshit deh kalau modal dengkul aja bisa kepilih. Tetap harus ada biaya yang dikeluarkan. Saya pernah hitung kasar, untuk biaya kampanye DPR RI,setidaknya dibutuhkan dana bisa 2 milyar rupiah atau bahkan lebih sekarang ( kata teman saya yang sedang berlaga ).
Saking asiknya keliling semasa sebelum dan sesudah kampanye, saya kecapaian , jatuh sakit dan masuk rumah sakit selama hampir dua minggu. Hasil pemeriksaan saya terkena malaria dan tiphus akut. Tapi saya senang sekali walaupun pada saat itu tahu di atas kertas pasti kalah.. Dan memang akhirnya kalah. Tapi begitu banyak hal yang bisa dipelajari.
Sekarang saya tidak ikutan nyaleg lagi,karena saya ingin berkonsentrasi dan ingin eksis jadi penulis. Tapi saya tidak bisa melupakan pengalaman ini. Mungkin suatu hari nanti, jika saya sudah sangat dikenal publik, mungkin mau juga saya tergerak untuk ikut dalam pertarungan lagi.
Untuk teman teman yang ikut nyaleg, selamat berjuang ya. Kalau sudah duduk, jangan lupa berdiri......
xxx
Amelia Masniari
Saya jadi teringat kisah lima tahun yang lalu ketika saya jadi caleg DPR RI partai PIB ( partain indonesia baru ) untuk DAPIL SUMUT 1. Sebenarnya secara fisik,mental dan finansial waktu itu,saya belum siap, tapi karena di dorong oleh My Dad yang bersahabat erat dengan Alm.Sjahrir, akhirnya mau juga saya ikut berperan serta bantu bantu di partai itu. Kata My Dad, tidak akan ada ruginya belajar. Jika suatu saat mau diseriusin, kamu sudah tahu apa yang kamu mau perbuat dan bagaimana caranya. Akhirnya selama sekitar 6 bulan saya bolak balik setiap minggu ke Medan sama Nanda Hasibuan dan Opung Gustav Panjaitan.
Dapil 1 waktu itu meliputi pemkot Medan, kabupaten Deli Serdang dan kabupaten Serdang Bedagai. Dan benar kata My Dad...banyak yang saya pelajari dari sini. Saya sudah keliling ke semua kecamatan yang ada di sana, dan tidak ada satupun pengalaman buruk selama keliling dari satu kecamatan ke kecamatan lainnya. Penduduk disana sangat baik dan tulus jika kita datang dengan tangan terbuka. Saya paling sering dioleh olehin makanan dan kue kue khas daerah sana jika pulang. Saya paling senang kalau ke daerah pemukiman nelayan. Penduduknya biasanya sangat ramah dan sangat mudah untuk dikumpulkan. Beda dengan masyarakat yang sudah tinggal di perkotaan.Ngumpulin 50 orang saja kalau enggak diiming imingin uang kayaknya susah banget.
Bukan rahasia umum jika ingin nyaleg, harus siap dana yang tidak sedikit. Banyak banget pengeluaran yang bakal keluar, baik di rencanakan maupun tidak.Semuanya serba money oriented. Setiap turun ke lapangan, duit harus tebal. Bagi bagi kaos, sarung, obat, beras, sembako , cetak atribut, biaya kopi, rokok dan makanan dalam setiap rapat dan pertemuan dengan konstituen di daerah adalah suatu standard banget, tapi itupun bisa habis ratusan juta rupiah. Jadi bullshit deh kalau modal dengkul aja bisa kepilih. Tetap harus ada biaya yang dikeluarkan. Saya pernah hitung kasar, untuk biaya kampanye DPR RI,setidaknya dibutuhkan dana bisa 2 milyar rupiah atau bahkan lebih sekarang ( kata teman saya yang sedang berlaga ).
Saking asiknya keliling semasa sebelum dan sesudah kampanye, saya kecapaian , jatuh sakit dan masuk rumah sakit selama hampir dua minggu. Hasil pemeriksaan saya terkena malaria dan tiphus akut. Tapi saya senang sekali walaupun pada saat itu tahu di atas kertas pasti kalah.. Dan memang akhirnya kalah. Tapi begitu banyak hal yang bisa dipelajari.
Sekarang saya tidak ikutan nyaleg lagi,karena saya ingin berkonsentrasi dan ingin eksis jadi penulis. Tapi saya tidak bisa melupakan pengalaman ini. Mungkin suatu hari nanti, jika saya sudah sangat dikenal publik, mungkin mau juga saya tergerak untuk ikut dalam pertarungan lagi.
Untuk teman teman yang ikut nyaleg, selamat berjuang ya. Kalau sudah duduk, jangan lupa berdiri......
xxx
Amelia Masniari
Wednesday, November 26, 2008
TIPS MENGHADAPI KRISIS EKONOMI GLOBAL
Dunia sepertinya dilanda kepanikan terhadap krisis ekonomi global.... tidak dapat disangkal memang.... krisis yang dialami US memang memberi tamparan yang luar biasa terhadap Indonesia yang masih mengandalkan ekspor ke luar negeri, terutama US...
Krisis ini memang berbeda dari krisis yang terjadi tahun 98 di Indonesia. Jika tahun itu yang krisis hanya negara negara di asia tenggara dan amerika latin yang dimulai di Thailand, maka krisis tahun ini semua negara terkena dampak krisis global. Jika tahun 98 yang terpangkas hanya nilai rupiah, bursa saham Indonesia, namun masih banyak juga yang diuntungkan oleh krisis 98, misalnya para pengusaha yang berorientasi ekspor atau yang ber income dalam USD, petani karet yang harganya mendadak melambung tinggi dalam USD dan TKI. Maka krisis yang kita alami sekarang memukul semua sektor... hal ini terjadi karena orang orang di luar negeri mengurangi konsumsi dan melakukan penghematan, sehingga permintaan luar negeri terhadap produk produk ekspor di Indonesia mengalami penurunan dan hasil hasil pertanian yang dapat diekspor ke luar negeri mengalami penurunan harga yang amat drastis, seperti sawit dan karet.... ( kecuali pinang di Jambi hahhahaa / eh ini serius loh... yang naik dalam USD cuma pinang.... saking langkanya.) Hal ini bisa menyebabkan banyak pabrik dan perusahaan bangkrut karena berkurangnya order, dan dampak berikutnya adalah pemecatan karyawan dan buruh pabrik... Pengangguran akan melimpah ruah dan menambah beban pemerintah dan pembayar pajak tentunya.... Kriminalitas akan semakin merajalela.... kecemburuan sosial antara si kaya dan si miskin akan semakin terlihat.... yang punya kekuasaan dan yang merasa tertindas dan jika ini terjadi chaos atau kerusuhan bisa terjadi lagi di Indonesia.
Menurut saya, Indonesia mungkin bisa terselamatkan dalam krisis ini, jika kita semua bersama sama melakukan penghematan dan efisien dalam berkonsumsi.... Indonesia masih diuntungkan dengan jumlah penduduknya yang amat sangat banyak dan terkenal sangat konsumtif.... sehingga konsumsi penduduk Indonesia inilah yang mampu menahan agar roda ekonomi dan produksi Indonesia tetap berjalan.
Krisis ekonomi ini saya perkirakan akan lebih lama dari krisis yang dialami Indonesia tahun 98. Untuk itu kita, perempuan harus bijak menyikapinya, karena dalam rumah tangga, Perempuan biasanya pengendali ekonomi keluarga... Pengendalian diri dalam berkonsumsi dan penghematan adalah suatu keharusan yang sudah mulai dilakukan untuk menyelamatkan keluarga.
Tips Menghadapi Krisis Ekonomi Global
Amelia Masniari
Krisis ini memang berbeda dari krisis yang terjadi tahun 98 di Indonesia. Jika tahun itu yang krisis hanya negara negara di asia tenggara dan amerika latin yang dimulai di Thailand, maka krisis tahun ini semua negara terkena dampak krisis global. Jika tahun 98 yang terpangkas hanya nilai rupiah, bursa saham Indonesia, namun masih banyak juga yang diuntungkan oleh krisis 98, misalnya para pengusaha yang berorientasi ekspor atau yang ber income dalam USD, petani karet yang harganya mendadak melambung tinggi dalam USD dan TKI. Maka krisis yang kita alami sekarang memukul semua sektor... hal ini terjadi karena orang orang di luar negeri mengurangi konsumsi dan melakukan penghematan, sehingga permintaan luar negeri terhadap produk produk ekspor di Indonesia mengalami penurunan dan hasil hasil pertanian yang dapat diekspor ke luar negeri mengalami penurunan harga yang amat drastis, seperti sawit dan karet.... ( kecuali pinang di Jambi hahhahaa / eh ini serius loh... yang naik dalam USD cuma pinang.... saking langkanya.) Hal ini bisa menyebabkan banyak pabrik dan perusahaan bangkrut karena berkurangnya order, dan dampak berikutnya adalah pemecatan karyawan dan buruh pabrik... Pengangguran akan melimpah ruah dan menambah beban pemerintah dan pembayar pajak tentunya.... Kriminalitas akan semakin merajalela.... kecemburuan sosial antara si kaya dan si miskin akan semakin terlihat.... yang punya kekuasaan dan yang merasa tertindas dan jika ini terjadi chaos atau kerusuhan bisa terjadi lagi di Indonesia.
Menurut saya, Indonesia mungkin bisa terselamatkan dalam krisis ini, jika kita semua bersama sama melakukan penghematan dan efisien dalam berkonsumsi.... Indonesia masih diuntungkan dengan jumlah penduduknya yang amat sangat banyak dan terkenal sangat konsumtif.... sehingga konsumsi penduduk Indonesia inilah yang mampu menahan agar roda ekonomi dan produksi Indonesia tetap berjalan.
Krisis ekonomi ini saya perkirakan akan lebih lama dari krisis yang dialami Indonesia tahun 98. Untuk itu kita, perempuan harus bijak menyikapinya, karena dalam rumah tangga, Perempuan biasanya pengendali ekonomi keluarga... Pengendalian diri dalam berkonsumsi dan penghematan adalah suatu keharusan yang sudah mulai dilakukan untuk menyelamatkan keluarga.
Tips Menghadapi Krisis Ekonomi Global
- Kurangi pemakaian energi yang tidak perlu dengan sendirinya mengurangi pemborosan.
- Biasakanlah berpergian bersama sama, tidak sendirian dalam satu mobil untuk menghemat bensin.
- Kurangi berpergian yang tidak penting ke luar negeri untuk penghematan devisa dan membantu mengendalikan nilai Rp.
- Kurangi belanja produk Import, apalagi untuk benda benda yang tidak terlalu urgen sifatnya.
- Mulailah menggiatkan pemakaian produk Indonesia untuk membantu pengusaha, petani dan peternak Indonesia serta membantu menggerakkan roda ekonomi Indonesia.
- Giatkan pemakaian produk daur ulang... dan bio friendly untuk menyelamatkan bumi kita ini.
- Jeli melihat peluang yang ada disekitar kita yang bisa menambah income keluarga....
- Jangan sia siakan potensi yang ada di dalam diri kita.... maksimalkan potensi dan bakat yang ada, pasti ada jalan untuk menambah income.
- Jika orang menyarankan untuk keluar dari bursa saham atau menghindari investasi saham, saya justru sebaliknya... this is a sale time for stock market.... Jika punya duit berlebih atau nganggur yang dapat diparkir untuk sekitar tiga tahun, saham adalah sarana investasi yang menjanjikan... Saya percaya, roda terus berputar. masih ada beberapa perusahaan Indonesia yang memiliki ketahanan yang luar biasa, karena produknya yang spesifik yang tidak dimiliki banyak negara dan akan terus dibutuhkan... sektor pertambangan , telekomunikasi, pertanian sudah terbukti teruji krisis, dan jika terjadi recovery, saham saham inilah yang bergerak terlebih dulu secara cepat...
- Harga emas lagi murah... mulai menyimpan dalam bentuk emas batangan, bukan perhiasan, karena terbukti liquid dan jarang rugi menyimpan emas untuk jangka waktu menengah dan jangka panjang.
- Mulai lah berwisata di dalam negeri, untuk membantu menghemat devisa di dalam negeri. Percaya deh... Indonesia itu indah dan unik sekali... Memang dalam pariwisata Indonesia, infrastrukturnya masih parah... tapi jika kita membantu dengan berwisata di dalam negeri, dengan sendirinya, infrastruktur di daerah daerah pariwisata di Indonesia bisa mulai digerakkan... banyak loh daerah daerah pariwisata yang masih virgin di Indonesia, kerinci di Jambi, Pulau Banda di Ambon, Pulau Sabang di Aceh, Nias di Sumatra Utara, kepulauan Raja Ampat di Papua, Ternate di Maluku Utara, dll.... percaya deh, setelah kamu lihat tempat tempat yang saya sebutkan diatas..... You gonna really love Indonesia.
- Berdoalah supaya krisis ini cepat berakhir dan Indonesia selamat dalam krisis ini....
Amelia Masniari
Subscribe to:
Posts (Atom)